KolaborAksi
Dompet Dhuafa bersama PFI Luncurkan Kampanye Menyusui Selamatkan Nyawa, Hemat Biaya
LKCDOMPETDHUAFA.ORG, Jakarta - Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Dompet Dhuafa, doctorSHARE, Nutrition International, dan Scaling Up Nutrition Civil Society Alliance (SUN CSA) meluncurkan kampanye bersama “Menyusui Selamatkan Nyawa, Hemat Biaya” dalam Philanthropy Learning Forum (PLF) #98 di Jakarta, Rabu (30/9).

Kampanye ini membawa pesan bahwa menyusui tidak hanya merupakan bagian penting dari kesehatan ibu dan anak, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia, produktivitas, dan kesejahteraan keluarga.
Peluncuran kampanye tersebut menjadi bagian dari forum yang mengangkat tema “Investasi Menyusui untuk Menyelamatkan Kehidupan dan Menghemat Biaya Kesehatan”. Forum mempertemukan pemerintah, filantropi, akademisi, organisasi masyarakat sipil, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan komunitas untuk membahas bagaimana dukungan terhadap menyusui dapat diperkuat sebagai bagian dari agenda kesehatan sekaligus pembangunan manusia.
Indonesia menunjukkan perkembangan positif dalam cakupan ASI eksklusif pada bayi usia 0–5 bulan, yang meningkat dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Namun, berbagai tantangan masih perlu diatasi, mulai dari dukungan di tempat kerja, norma sosial dan budaya, akses terhadap konseling menyusui yang berkualitas, hingga penguatan koordinasi lintas sektor. Karena itu, dukungan terhadap menyusui perlu dipandang sebagai tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, layanan kesehatan, komunitas, dunia usaha, pemerintah, serta organisasi masyarakat sipil.
Dalam sambutannya, Ahmad Juwaini, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika, menekankan bahwa menyusui memiliki keterkaitan dengan tumbuh kembang dan masa depan anak, sekaligus menjadi bagian dari investasi sosial yang membutuhkan kolaborasi. Ia juga menyoroti pentingnya forum dan kolaborasi lintas pihak sebagai ruang pertukaran gagasan dan pembelajaran praktik baik.

Sementara itu, Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc., Dewan Pakar Perhimpunan Filantropi Indonesia, menegaskan bahwa menyusui tidak hanya berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga tumbuh kembang, kesejahteraan keluarga, dan masa depan.
“Menyusui merupakan bagian penting dari kesehatan ibu dan anak. Menyusui juga mempengaruhi tumbuh kembang anak dan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga. Karena itu, menyusui dapat menjadi investasi pada masa depan,” ujar Budi.
Ia juga menekankan bahwa evidence dan pengetahuan yang dibahas dalam forum dapat menjadi basis untuk memperkuat kebijakan dan investasi, sehingga forum ini tidak berhenti sebagai kampanye, tetapi menjadi dialog awal untuk mendorong investasi.
Perspektif pembangunan tersebut kemudian diperkuat melalui dari Diah Lenggogeni, S.T., M.Sc., Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas. Ia menempatkan menyusui sebagai bagian dari intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan investasi pembangunan sumber daya manusia. Pembahasan juga menyoroti pentingnya penguatan konseling keluarga, kapasitas tenaga kesehatan, dukungan di fasilitas kesehatan, lingkungan kerja dan ruang publik yang ramah ibu menyusui, serta keterlibatan pemerintah daerah dan mitra filantropi untuk menjangkau kelompok rentan.
Pada sesi utama, Dylan Walters, PhD., Senior Global Portfolio Director, Health Economics and Nutrition Financing, Nutrition International, memaparkan Global Investment Case for Improved Breastfeeding. Ia menekankan bahwa peningkatan dukungan menyusui 10 tahun ke depan diperkirakan dapat mencegah kematian 224.000-263.000 anak, 160.000 kematian ibu, mencegah hilangnya 133 juta tahun pendidikan, dan 382 juta poin IQ. Ini adalah peluang strategis untuk tumbuh kembang anak usia dini, memperkuat kualitas sumber daya manusia, dan menghasilkan manfaat sosial-ekonomi jangka panjang hingga USD 357 miliar. Jika sumberdaya terbatas, intervensi yang penting dipertimbangkan untuk diperluas cakupannya hingga 75% termasuk konseling dan edukasi, rumah sakit sayang bayi, kampanye media, perlindungan dari pemasaran produk pengganti ASI yang tidak sesuai ketentuan, cuti maternitas, serta dukungan menyusui di tempat kerja.
Diskusi panel bersama dr. Lovely Daisy, MKM., Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI; Dr. Adiatma Y. M. Siregar dari Center for Economics and Development Studies (CEDS) Universitas Padjadjaran; dr. Yeni Purnamasari, MKM., General Manager Kesehatan Dompet Dhuafa; serta dr. Hikmah Kurniasari, M.K.M., M.A.R.S., CIMI, IBCLC, Wakil Ketua Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI), dan Tutuk Utomo Nuradhy, Ketua Pengurus doctorSHARE, membahas berbagai tantangan dan kebutuhan penguatan ekosistem menyusui.
Pembahasan mencakup kesenjangan konseling menyusui, inisiasi menyusu dini, dukungan keluarga dan masyarakat, lingkungan kerja, hingga beban ekonomi akibat praktik menyusui yang tidak optimal. Salah satunya, anggota PFI, Dompet Dhuafa dalam menyediakan layanan dukungan menyusui, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader, serta pendampingan ibu menyusui di komunitas dan situasi bencana.
PFI bersama anggota dan mitra mendorong perubahan cara pandang bahwa keberhasilan menyusui bukan semata-mata tanggung jawab ibu, melainkan membutuhkan ekosistem pendukung yang melibatkan keluarga, fasilitas kesehatan, tempat kerja, komunitas, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat sipil. Bagi filantropi, ruang kontribusi juga terbuka melalui pembiayaan program, penguatan riset dan evidence, inovasi, edukasi publik, penguatan komunitas, serta kolaborasi lintas sektor.
Sumber: PFI
Oleh Budi S - 2 Okt 2026 - 00:00:00